Sunday, August 24, 2014

Late post

Hari pertama dikost-an

Kereta berjalan lambat namun seiring jalannya waktu, kecepatan kereta pun bertambah. Udara dingin menemaniku dengan pelukan yang membuatku menggigil. Ditambah suhu yang didinginkan air conditioner, hampir tak kuasa ku menahannya. Lelah seketika mendera, ketika barang bawaan yang begitu banyak dibawa dengan penuh paksaannya. Kami tiba di Stasiun Madiun pukul 2.30 WIB. Duduk sejenak dan berusaha mengusir letih, namun justru kami terusir oleh Pak Satpam yang berlaga lemah lembut dihadapan kami. Terpaksa kami enyah dan pergi menjauh. Memang sudah peraturannnya, dan hanya 15 menit saja para penumpang diperbolehkan sejenak berhenti.

Kami keluar, terasa udara panas membakar kulit. Banyak para penjual jasa yang menawarkan jasa mereka, dari tukang becak, ojek, taksi, hingga mobil pribadi. Kami memilih mobil pribadi. 20 menit kami sampai di tempat kost. Hening, lalu terdengar suara adzan subuh. Ibu kost bernama Ilyas, Simbah Ilyas, begitulah para penghuni kost memanggilnya, datang lalu membukakan pintu. Kami ambil barang bawaan lalu kami bawa ke kamar kost yangsebulansebelumnya sudah di booking. Suara iqomah mensudahi kerja kami subuh itu. Ku ambil wudhu, lalu kulaksanakan apa yang telah menjadi kewajibanku.

Fajar menyingsing menyilaukan mata. Sapaan salam dari tetangga kost, Pak Topan, begitu orang tinggi berkulit coklat berambut sedikit botak mengenalkan diri. Kami jawab salamnya, dihidangkan dihadapan kami segelas the hangat untuk tiga orang. Kami pun keluar, menghormati penghormatan mereka. Ya seperti ciri khas orang ketimuran. Begitulah kami orang timur. Kami berbincang, mencoba untuk saling mengakrabi, tak terasa rasalapar mendera, prut ku bergeta dan bunyi, kereoncongan, begitulah istilahnya.kami pun mohon izin untuk keluar, cuci maa sekaligus mencari udara yang lebih segar. Setelah makan sarapan, pukul 8.00 WIB aku berangkat ke Politeknik Negeri Madiun tempatku nanti mencangkul ilmu, dan inilah alasan ku disini sekarang dan hingga nanti.

Aziz, teman pertama yang ku kenal di Kota Madiun ini, aku berkenalan dengannya ketika ia kebingungan lalu bertanya kepedaku. Aku pun menjawab sebisaku dengan logat Tegalku yang belum mampu tergantikan. Aku menjadi lebih akrab, beruntungnya lagi dia satu kelas denganku. Sau pasukan yang nanti tanggal 1 September 2014 akan diadakan PKMB, Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru, atau ospek istilahyang terkeknal di masyarakat. Ketika pemberian arahan selesai,aku bingung harus pulang dengan siapa,sedangkan ketika berangkat aku ikut Pak Topan yang notabennya beliau bekerja disitu, sedangkan saat acara pengarahan selesai Pak Topan pasti belum selesai dengan pekerjaannya. Tapi Aziz teman yang baru ku ketika dimomen tadi, berbaik hati dan mau mengantarkanku hingga tempat kost-an ku. Ku ucapkan banyak terimakasih seusainya. Suatu momen yang indah bukan?

Aku terlelap dalam tidur disiang hari, sedang ayahku memperbaiki kamar kost ku yang sedikit kurang baik. Setidaknya menghilangkan sedikit rasa lelah yang mendera. Namun ketika kami harus berpisah, sedih rasanya, namun memang aku terkadang menginginkan hal seperti ini. Jauh dari orang tua dan berusaha hidup mandiri. Kini kesedihan itu menciderai hati.rasanya begitu sepi. Walaupun ku akui sangat membosankan dirumah, sangat menyebalkan melihat pola tingkah laku ayah dan ibu yang terkadang kekanak-kanakan, bahkan sering kali tidak bisasalingmengontrol emosi meraka masing-masing. Namun kini, kurasakan begitu sepi tanpa mereka,seakan aku belum siap, namun inilah waktu yang tepat. Kini yang ku lakukan, berusaha menyibukan diri. Agar tak memikirkan kesendirian dalam sepi ini. Aku harus kuat, dan aku yakin aku kuat, ya aku kuat..dan aan kulalui semuanya

16.11 WIB, Sabtu, 23 Agustus 2014

Wednesday, August 20, 2014

Persetan Dengan Mu Ayah

Sudahlah!! Aku ini udah gede. Jangan banyak diatur mulu. Biarin aku belajar ngatur diriku sendiri. Kalo gini mulu, kapan aku gedenya?!

Kalian itu terlalu hati-hati ato takut mati?! Tipis lho jaraknya! Hati-hati emang penting, tapi kalo udah segila ini, nglewatin wajar namanya!

Seenggaknya yang harus kalian pikirin itu diri kalian dulu! Kalian aja kurang becus :p
Mau jadi apa aku nanti, biar aku sendiri yang nentuin! Kalo aku jatuh nanti didepan, aku bakal nyalahin kalian juga, karna kalian banyak ngatur!

Biarkan aku belajar sendiri menghadapi hidup ini. Aku bukan balita yang musti ditatih buat jalan, musti dituntun lagi. Aku udah disunat lho. Kaiian kan yang bayarin.

Sudah saatnya! Selapaskanlah belenggu hitam yang merantai dileher ini. Biarkan aku beranjak!

Sayang kalian bego! Kuno! Dan tolol teknologi.. (n)
Coba kalian ngerti beginian, kalian ngerti perasaan ku yang hanya ku ungkapkan disini. Lihat tuh banner blog ini. Aku nulis, karna yang lain tuli! Ya biarinlah, biar saja hati ini menjadi kuburan rasa, kuburan amarah dan emosi..

Persetan dengan kalian [midfing]

Saturday, August 2, 2014

Asa

By me

Ketika asamu jauh dilangit
Berteduh dibawah awan
Akan tinggi menembus awan
Menuju luar angkasa
Lalu bersinar dalam gelapnya semesta

Tapi itu hal yang tabu
Imiapnmu sirna
Disapu bersih oleh badai
Awan yang akan kau lintasi
Tak mampu lagi membendung uap air
Memang menyejukan pada awalnya
Tapi berakhir badai berbencana

Kini kau hanyut
Jatuh bersama hujan
Asamu hilang
Tanpa sisa

Satu hal yang masih kau miliki
Nafasmu,
Nafas yang mampu merajut kembali asa
Asa yang telah meleleh
Lalu lagi menyeruak semangat yang dulu
Dan kau pun siap menggunjang dunia

Thursday, July 24, 2014

Didunia ini semuanya berjalan dengan konsep untung rugi

Apa yang akan kamu katakan bila melihat seseorang yang dengan rela ikhlas berbagi tanpa pamrih mengharap imbalan dan hanya berpikir bahwa restu Tuhanlah yang menjadi tujuan? Mungkin yang ada dibenakmu hal tadi hanyalah fiktif, bukan hal yang nyata. Memang sebenarnya iya, rasanya dizaman ini semuanya serba dilihat dari segi menguntungkan atau tidaknya, bila tidak ada untungnya setidaknya yang kita lakukan bukanlah kerugian yang kita dapatkan.

Sebenarnya, semua yang diciptakan oleh manusia meniru apa yang telah Tuhan ciptakan. Manusia mengukir sebuah ciptaan dengan tujuan mencari kesempurnaan. Tapi pada dasarnya, kesempurnaan itu hanyalah milik tuhan. Apa yang diciptakan oleh manusia tidak akan pernah sempurna, selalu ada celah kelemahan yang membuatnya harus diperbarui. Itu sebabnya tekhnologi didunia ini tidak akan pernah mati. Tekhnologi mati bila kehidupan didunia ini berhenti, kehidupan didunia ini mati.. Lebih disayangkannya lagi, sudah meniru tapi justru manusia mengkomersialkan apa yang diciptakannya. Tekhnologi tak ada yang gratis. Manusia memberi tarif dari apa yang telah dibuat. Bahkan sejengkal jasa saja berbayar. Tidakkah manusia sadar akan udara, sinar mentari, kelopak mata yang berkedip, itu adalah tekhnologi yang sangat luar biasa, bahkan bisa dikatakan tidak masuk akal bila kita tidak berakal.

Dan inilah hidup. Sempat kita membayangkan indahnya menikmati hidup bila semua yang ada didasarkan keikhlasan? Akan lebih indah rasanya..
Benar, inilah hidup.. semuanya berjalan dengan konsep untung dan rugi. Bila kita tidak untung, setidaknya bukanlah rugi yang kita peroleh..

Friday, July 4, 2014

Pembunuh

By : Me

Ku pandang cermin
Ku tatap mata penuh kecemasan
Ingin ku ajak bicara sosok di dalam cermin itu

Apakah aku sudah mati?
Ya..
Aku terbunuh ragu dan rasa takutku
Mungkin tepatnya aku bunuh diri dengan perasaanku sendiri

Aku tertawa
Sosok dalam cermin itu pun tertawa
Ku ludahi cermin itu
Sejenak, lalu ku lempar dari hadapanku

Yang ku sadari
Ragu dan rasa takut hanya membuahkan kecemasan
Kecemasan yang mampu membunuh banyak jiwa
Termasuk jiwaku ini..

Thursday, June 26, 2014

Mati

By : Me

Ketahuilah bahwa kematian selalu satu langkah di belakangmu
Sudah siapkah kamu menemaninya melangkah?
Bekal apa yang kamu bawa selagi menanti kepastian antara surga dan neraka
Sudahkah kamu mempersiapkannya?

Ingatlah! Kamu tidak bisa mengkehendaki apa yang telah dikehendaki
Dan kamu tidak tau akan kemahaan Tuhan
Tidak tau kebesaran kekuasaanNya hanya dengan kuasamu
Kamu tidak akan tau kapan kematian itu tiba
Tidak akan pernah tau

Kamu tidak akan pernah tau kapan Izrail datang meminta satu nafas terakhirmu
Jangan kamu bergetar dihadapannya!
Sudahkah kamu siap menjawab salamnya?
Apa kamu akan rela begitu saja?
Atau justru menawar padahal kamu sendiri tau itu tidak ada artinya?

Marilah, selagi masih ada udara berharga yang tak berharga (:gratis)
Yang harus kamu ketahui lagi, Tuhanmu maha pengampun
AmpunanNya selalu terbuka
Bertaubatlah kamu dengan sesungguh-sungguhnya
Agar kamu haus akan kematian, bukan takut mendengarnya

NB: Kamu di sini adalah kita, manusia, yang seperti pasir di gurun dosa-dosanya.

Monday, June 23, 2014

Taubat

By Aulia Rizqi

Matahari akan menghantam kegelapan maut
Fajar menyingsing mengantar kelelawar pada mimpinya
Sinarnya membawa kehangatan dan udara segar
Yang merasuk lewat mata yang terjaga sendari subuh

Tiga per tiga malam, ayam berkukuk
Menghancurkan belenggu kemalasan setan
Yang menyelimuti diri hingga ke dalam hati
Berakhir kemenangan, bangit dari ranjang kenistaan

Basuh wajah berkelopak mata panda dengan wudhu
Mensucikan diri dengan air suci tanpa noda
Panjatkan doa setelah ruku dan sujud menyembahNya
Memohon ampun atas kemaksiatan kedurhakaan semalam

Berharap kemuliaan rahmat memberkati
Hapuskan dosa yang terlukis oleh bercak dan noda
Agar kesedihan kepedihan berubah cinta kasih dan kasih sayang
Agar kasih sayang cinta merangkul merajutkan asa