Sunday, April 10, 2016

BIJAKSANA CINTA

Karya : Aulia Rizqi
Adaptasi "KABAR ANGIN PAGI HARI" Karya : Sri Wintala Achmad

Berhala cinta, menyembahnya, berlutut dan sujud hingga dahi benjud.
Agama cinta, tak bisa murtad darinya. Terkutuk dicintai dan mencinta.
Nafsu membara. Iman sejati, pikiran dan akal logika sebagai kayu bakar kering.
Maka, jika sakau merindu, ingatlah hal lara hati tentang cemburu.
Rasakan cambuk diselingkuhi sekali, ditetesi air garam pada luka cambukan kedua kali.
Jika cinta menjelma benci yang meraksasa raya. Bayangkan senyum mekarnya daging tulang pelipis.
Mahkota mawar dihinggap kekupu, tak tanggal kelopak kuntum dari tangkainya.
Ingat janji saat merekahnya bibir tipis dan berkata, "Hamba akan tulus setia kepada hanya Tuan dan seakhir usia.".

Gerbong Kereta Api Brantas, Senin, 11 April 2016. 01:41 WIB.

Tuesday, March 29, 2016

Semester 4 paling menyebalkan. Mengungguli rekor paling menyebalkan semester 3 saat dulu menjalaninya. Yang dahulunya juga telah menaklukan semester sebelumnya.

Kuliah seperti SMA. berangkat sedang mata terbuka. Pulang petang pas malam datang. Setiap hari praktek. Sampai baju kecut, bau apek kombinasi oli, debu tanah yang menempel gara-gara 'ndlongsok, ditambah keringat yang menetes karena nyucinya kurang dibilas.

'Liburan semester 4 cuman kiasan. Hanya namanya saja. 'Libur. Tapi harus memenuhi tuntutan SKS Praktek Kerja Lapangan. Harusnya bisa di sebulan di kampung halaman. Sebulan beneran liburan, entah ke samudra laut, bermalam di pinggiran, atau 'menikmati alam lainnya dengan ngopi di atas awan, gunung.

Tapi tidak. Mungkin, semester 4 ini memang sudah 'disket oleh 'wong nduwuran, supaya tak kaget nanti PKL. Supaya terbiasa bangun pagi, pulang petang pas malam datang. Supaya terbiasa 'kesel. Dan tak hanya 'kesel, tapi juga 'pegel ( : sebal )

Halah! Padahal, meski keseringan berpikir negatifnya dulu dan terusan. Padahal, lulus kuliah, bahagia pas wisuda, belum tentu tenang, pasti gelisah. Lulus, tugas selesai sudah. Mau lanjut kemana? Diterima kerja dimana? Pertanyaan 'hampir sama dengan jawaban yang diinginkan Isroil dan Isrofil di kuburan.

Terus dijalani dengan biasa? Susah! Pasti gelisah! Sampai memikirkannya lelah. Bersyukur? Justru "Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan?!"

Ya. Beginilah hidup. Banyak sudutnya, liku, lancip, tumpul, tersamar lurusnya. Tuhan adil tanpa kenisbian tentang ujian seberapa dalam kepada hamba-hamba-Nya..

Friday, March 25, 2016

Iya, akan memperoleh reaksi yang positif dan 'negatif. Bahkan bisa jadi negatif tanpa sedikitpun persepsi positif. Jika yang kita lakukan 'kebacut.

Tapi yang tidak adil adalah ketika yang kita lakukan 'kebacut dalam hal baik, ada saja komentar yang panas di telinga. Seperti kenisbian hidup benar terasa. Memang hanya Tuhan yang adil. Hanya Tuhan yang maha mengetahui.

Berdasar empat karakter dasar manusia. Sifat-sifat keunikan, lebih dan kurang bisa diubah. Mendekati sempurna. Bukan berarti tidak menjadi diri sendiri, seperti tidak bersyukur, tetapi menjadi lebih baik. Menjadi mendekati sempurna.

Semua butuh proses dan tak selalu bisa dipaksakan. Tidak instan. Kongkalikong pun butuh cerdas dalam berkomunikasi. Pintar bermanis -manis manja. Saling bertahan sampai ada yang tak betah dan pahitnya muntah.

Kembali ke diri kita sendiri. Tapi ingat juga campur tangan Tuhan.

Waroeng Belakang RRI, Warung DOK. Madiun, 25 Maret 2016. 22.25 WIB.

Wednesday, March 9, 2016

Bukan Senja, Hanya Fajar

Bukan senja, hanya fajar. Bukan pula gerhana mata dari hari yang pagi tadi hitam sempurna. Foto yang menurut pandang mata berkaca menahan senyum lantaran … , indah. So wild and so pure. Atau, sedang mabuk dua botol cinta.


Fajar mengawali terang. Mengakhiri petang. Menurutmu aku menahan senyum lantaran terluka. Bisa jadi, iya. Dan semoga sejingga fajar, hadirmu ditengah gelap, menuju terang.

Semoga bukan sekedar bualan bocah pandai berlidah lalu dituliskan. Aku senang menulis. Aku suka kau baca. Ku harap, aku yang melebih-lebihkan fakta dengan kefiktifan. Aku bukanlah tulisan yang tak pernah kau baca.

Mungkin banyak yang bosan saat aku bicara. Karena hanya bualan. Omong kosong. Bodoh mencuri hati. Itulah mengpa aku menulis, bahkan hingga alam malas mendengar. Karena tak satupun mendengar, itulah mengapa aku menulis. Dan kamu, objek yang indah untuk ku tuliskan.

Monday, March 7, 2016

Puisi Sakit Hati

Oleh : Akhmad Aulia Rizqi F

Makan hati, jantung
Dikebiri, secara kimia
Djilatnya tulus, yang tiada harap balas
Ikhlas tiada balas
Puas
Pelan, hancur lebur
Hilang bentuk, remuk
Supaya tunai puncak nafsu
Dicurang, kebaikan palsu
Yang halus, tanpa rasa
Bagai udara
Berkelimpah
Busuk seperti paru-paru
Amis sehalnya darah
Belatung otak udang diatas wadas
Sandiwara keledai
Jatuh goblok sama tempat
Terungkap akibat dari kiblat
Kopi hitam dan ratusan butir gula
Pahit, masam
Tipu khayal manisnya
Cinta
Pembodohan kepercayaan
Ketololan akal
Usai, telah selesai
Pembalasan mengerikan sekedar dendam
Belati vanadium lapis perak
Tusuk empat tulang rusuk dari atas
Dada sebelah kiri
Denyut pengelabu genderang terhenti
Mata darah hitam seperti dosa
Habis tinggal raga penafsu sukma

Saturday, February 20, 2016

Keluarga Cakra Manggala

Keluarga


Mereka adalah anggota pengurus organisasi mahasiswa pecinta alam Cakra Manggala. Dan saya, saya yang mengambil gambar. Saya, nama saya Akhmad Aulia Rizqi Fauzi. Saya termasuk salah satu yang paling berpengaruh dalam organisasi ini. Dan kali ini, Sabtu, 20 Februari 2015 adalah hari yang sekali lagi menjadi saksi bisu layaknya prasasti namun tergambarkan lewat hasil jepretan kamera, foto. Betapa terbantahnya 14 Februari merupakan hari kasih sayang. Terbukti telah sudah terlewati 6 hari, kasih sayang seperti udara mengisi penuh ruang tamu rumah Ade Ayu Y. Ds. Mruwuk RT/RW 04/01 Kec. Dagangan Kab. Madiun.
Kami bukan sehanya berorganiasi, mengorganisir segala hal berkaitan dengan kepencintaan alaman. Kami berkeluarga. Bukan berarti seayah dan seibu atau hanya seayah dan beda ibu ataupun sebaliknya. Kami dari tanah yang berbeda. Lahir dari rahim suci seorang ibu yang tak sama. Akan tetapi kami satu. Satu visi. Satu tujuan. Adalah sebuah kesatuan keluarga.
Berkumpul di rumah Dek Yay, sapaan akrab Ade Ayu, bukan tanpa alasan. Lewat pesan singkat saya sampaikan untuk berangkat menuju rumahnya pukul 09.00 WIB. Apalah daya, sudah menjadi tradisi, seperti budaya lengket yang melekat. Kata telat selalu menyemat. Saya pun datang pada waktu yang tak tepat. Saya datang kurang lebih jam 12 kurang seperempat. Bukan hanya saya, banyak juga yang datang lambat. Tapi tidak paling lambat atau terlambat. Toleran, tepa salira dan saling memaklumi. Mungkin sibuk tidak hinggap pada mereka yang telah datang terlebih dahulu. So, pernyataan maaf pun diterima.
Sebagai pengurus, yang berarti mengurus. Sudah menjadi tanggung jawab. Kehadiran keluarga Cakra Manggala angkatan ke-3 ini tak lengkap. Beberapa yang lain tak sempat hadir. Rasanya seperti sayur asam kurang garam. Rasanya, untuk mempersiapkan tanggung jawab yang sudah sedekat  5 inchi pandang mata ini tidak pas. Lagi-lagi bertoleran. Asal jangan sampai mati karena toleransi.


Kami orang petang yang membicarakan terang. Kami mencari sebuah solusi dari sebuah permasalahan. Kami manusia. Dan manusia hidup adalah mencari solusi, mencari solusi dari segala permasalahan hidup. Ini hanya sebagian kecil permasalahan. Yang pastinya akan ditemukan sebuah jalan keluar.
Dalam musyawarah mencari terang. Rapat tidak harus melulu di dalam ruang yang hebat. Dengan proyeksi lalu berpresentasi. Tidak! Justru dengan di tempat yang terbuka. Seperti sabana di gunung-gunung. Hijau. Namun sejauh mata memandang, hanya tanaman yang mengsailkan beras yang terlihat. Justru ini seperti menyerap insprirasi dari alam. Meminta bantuan kepada alam. Dan semuanya, perbincangan dari semua yang dibincangkan, semuanya akan kembali lagi berhadapan dengan alam.
Mungkin foto-foto diatas tidak sepenuhnya menggambarkan total kebahagiaan yang sama terjadi saat itu. Iya. Memang tidak semuanya juga bahagia. Sempat terdapat debat hebat, membincangkan pencarian solusi-solusi yang paling terampuh. Tapi justru dengan berseteru itu, kami bisa dilatih berargumen, mempertahankan pendapat dengan alasan-alasan logis sebagai pendukung. Akhirnya, dengan adanya seteru, pemahaman tentang sebuah toleransi semakin dalam dimengerti. Mengalah tidaklah berarti kalah. Bukan mencoba berpikir dengan jalan masing-masing. Tapi jalan bersama yang paling terampuh, teraman dan membahagiakan.
Dan ini baru yang pertama. Waktu berjalan cepat. Cepat mengahabiskan kebahagiaan yang kurang puas. Bukan berarti kurang bersyukur. Syukur kami mengangkasa. Bagaimana tidak. Seandainya ada kata yang lebih dari terima kasih. Sudah berucap kali disampaikan. Terima kasih atas suguhan hangat sederhana namun mewah penuh kesan dan makna. Perbincangan ini belum selesai. Masih ada yang harus diperdebatkan lagi untuk mencari yang terbaik. Pertemuan-pertemuan selanjutnya sudah rindu menunggu.


         Mewah penuh kesan dan makna bukan? Bahagia tidak harus mahal. Tidak harus berlelah mengendara, lalu mendaki gunung hingga puncaknya. Atau menyusuri tepian laut, pantai. Hhm. Sepertinya, slogan untuk keluarga ini bukan “Keluarga Bahagia, Dua Anak Cukup”, tapi, “Keluarga Bahagia Hingga Anak Cucu”.
Akhmad Aulia Rizqi F. Madiun, Sabtu 20 February 2016. 18:49.


Thursday, February 18, 2016

Softskills

Ipk hanya administrasi untuk masuk dunia kerja.
Ilmu berkomunikasi yang baik.
Bekerja sebagai team, teamwork.
Bernegosiasi dengan sopan.
Persaingan dengan rekan kerja yang sehat. Berpolitik tapi tak terlihat jahat.
Tenang dan dengan pikiran dingin dalam menghadapi masalah dan beri solusi terbaik.
Stress bukan berarti meremehkan. Masalah yang datang terkadang hanya perlu untuk ditertawakan.
Kemampuan beradaptasi yang kilat.